Latest News

Minggu, 15 November 2020

Belajar dari Beato Carlo Acutis, Menjadi Kudus di Usia Muda



Carlo Acutis adalah seorang remaja muda yang belakangan ini menjadi topik paling hangat dan ramai diperbincangkan di banyak media sosial Katolik serta berbagai kalangan, mulai dari kaum religius hingga awam.

Pasti, sahabat muda tidak ketinggalan informasi terbarunya dong, karena sudah tersebar di berbagai website resmi gereja katolik dan media sosial lainnya, bahkan Misa Beatifikasi Carlo Acutis menjadi “Beato” juga ditayangkan di Channel Youtube.

Seorang Remaja Katolik

Carlo Acutis adalah seorang remaja Katolik yang lahir pada 3 Mei 1991 di London, Inggris. Saat ia berusia sekitar 5 tahun, Andrea Acutis (Mama) dan Antonia Salzano (Papa) memutuskan untuk pindah ke Milan, Italia.

Di usia remaja, dia didiagnosis menderita penyakit leukimia. Luar biasanya, dia justru mempersembahkan semua penderitaan sakitnya itu untuk Tuhan, Paus Benediktus XVI, dan Gereja.

Sama halnya dengan remaja laki-laki pada umumnya, Carlo Acutis begitu suka sepakbola dan bermain video game. Tidak hanya itu, penyuka dunia programming ini menggunakan keahliannya untuk membangun situs yang memuat katalog mukjizat Ekaristi di seluruh dunia.

Dalam websitenya, ia mengatakan, ”Semakin kita sering menerima Ekaristi, semakin kita menyerupai Yesus, sehingga di Bumi ini kita akan merasakan surga.”

Tahun 2006, tepatnya pada 12 Oktober, Carlo wafat dan dimakamkan di Asisi atas permintaannya, karena cintanya kepada Santo Fransiskus Asisi.

Tahun 2020, tepatnya pada 10 Oktober sungguh menjadi sukacita besar umat katolik seluruh dunia, khususnya bagi kaum muda di mana seorang remaja bernama Carlo Acutis dibeatifikasi di Asisi, Italia.

Dalam sejarah Gereja, pertama kalinya pada abad ke-20 atau zaman milenial, ada Beato termuda “Carlo Acutis” yang ditetapkan oleh Paus Fransiskus sebagai “Pelindung Internet.”

Carlo Acutis juga yang mempopulerkan istilah “Ekaristi adalah Jalan tol menuju ke surga.”

 [ https://carlo-acutis.blogspot.com/2020/11/belajar-dari-beato-carlo-acutis-menjadi.html ]

 

Carlo Acutis/Foto:rcdoworg

 

Dokumentasikan Mukjizat

Banyak sekali keistimewaan dan keteladanan suci dalam diri Carlo Acutis. Di usia mudanya, dia meminta orangtuanya untuk membawanya berziarah ke tempat-tempat para kudus dan ke situs-situs mukjizat Ekaristi.

Dia juga memiliki cinta khusus kepada Tuhan dan Bunda Maria, lewat doa Rosario serta berdevosi. Doa memiliki waktu hening/adorasi, mengaku dosa setiap minggu, rajin mengikuti Ekaristi setiap hari. Bahkan kekudusan dan kesucian hidupnya dapat membawa pertobatan mendalam bagi Ibunya, yang sebelumnya kurang terlalu taat, menjadi rajin mengikuti Ekaristi.

Tidak hanya itu, kecintaanya dan kepeduliannya pada sesama membuatnya rela memakai tabungannya untuk menolong orang miskin. Bahkan, dia juga dikenal suka membela anak-anak di sekolahan yang di-bully, khususnya anak – anak disabilitas.

Dan, ketika ada orangtua dari temannya akan bercerai, dia justru membawa temannya itu masuk ke dalam keluarganya.

Hal yang menajubkan sekaligus membuatnya jadi Beato adalah kesaksian mukjizat penyembuhan seorang anak kecil di Brazil. Anak tersebut sembuh dari penyakit kanker pankreas berkat doa perantaraan melalui Carlo Acutis.

 

 

Carlo Acutis

 

Refleksi untuk Semua

Carlo Acutis hanya hidup selama 15 tahun saja. Rentang waktu hidup Carlo begitu singkat bukan? Namun, Carlo Acutis mampu mengisi waktu hidupnya yang singkat dengan berbagai hal yang positif, bermakna serta berbuah yang tidak hanya dirasakan oleh keluarganya saja, melainkan sesamanya.
 [ https://carlo-acutis.blogspot.com/2020/11/belajar-dari-beato-carlo-acutis-menjadi.html ]
https://www.katolikana.com/2020/10/16/belajar-dari-beato-carlo-acutis-menjadi-kudus-di-usia-muda/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar